Rabu, 18 Desember 2013

Tugas Individu Dasar-dasar Kurikulum

TUGAS DASAR-DASAR KURIKULUM, TENTANG METODE PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH


Disusun oleh : Bella fista Juliana      A310120094



UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
FAKULTAS PENDIDIKAN
BAHASA INDONESIA DAN SASTRA
TAHUN 2012
METODE PEMBELAJARAN BERFIKIR BERBASIS KENDALA

A.    DESKRIPSI
Menurut Arends (Trianto, 2009) pembelajaran berbasis masalah (PBM) merupakan suatu
pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir, mengembangkan  kemandirian,  dan  percaya  diri.  Hal  senada  diungkapkan  pula  oleh  Suryadi (2005)  yang  menyatakan  bahwa  PBM  merupakan  suatu  strategi  yang  dimulai  dengan menghadapkan  siswa  pada  masalah  nyata  atau  masalah  yang  disimulasikan.  Pada  saat  siswa menghadapi masalah tersebut, mereka mulai menyadari bahwa hal demikian dapat dipandang dari berbagai  perspektif  serta menyelesaikannya  dibutuhkan  pengintegrasian  informasi  dari berbagai
ilmu. Selanjutnya  Barrow  (Ismaimuza,  2010)  mengungkapkan  bahwa  masalah  dalam  PBM adalah masalah yang tidak terstruktur (ill-structure), atau kontekstual dan menarik (contextual and engaging),  sehingga meransang  siswa  untuk  bertanya  dari  berbagai  perspektif. Menurut  Slavin (Ismaimuza, 2010) karakteristik lain dari PBM meliputi pengajuan pertanyaan terhadap masalah, fokus  pada  keterkaitan  antar  disiplin,  penyelidikan  authentik,  kerja  sama,  dan  menghasilkan produk atau karya yang harus dipamerkan. Sejalan  dengan  pendapat  yang  dikemukakan  oleh  Slavin,  menurut  Pierce  dan  Jones (Howey  et al, 2001) dalam pelaksanaan PBM  terdapat proses yang harus dimunculkan,  seperti: keterlibatan  (engagement),  inkuiri  dan  investigasi  (inquiry  and  investigation),  kinerja (performance),  Tanya  jawab  dan  diskusi  (debriefing).    Keterlibatan  bertujuan  untuk mempersiapkan  siswa  untuk  berperan  sebagai  pemecah masalah  (self-directed  problem  solver) yang  bisa  bekerja  sama  dengan  pihak  lain,  menghadapkan  siswa  pada  situasi  yang  mampu mendorong  untuk  mampu  menemukan  masalah,  meneliti  dan  menyelesaikannya.  Inkuiri  dan
investigasi yang meliputi kegiatan mengeksplorasi berbagai cara menjelaskan dan  implikasinya, kegiatan  mengumpulkan  dan  mendistribusikan  informasi.  Kinerja  bertujuan  menyajikan temuan  yang  diperoleh.  Tanya  jawab  dan  diskusi,  yaitu  menguji keakuratan  dari  solusi  dan melakukan refleksi terhadap pemecahan masalah yang dilakukan. Dengan demikian PBM menghendaki agar siswa aktif untuk memecahkan masalah yang sedang  dihadapinya.  Agar  siswa  aktif maka  diperlukan  desain  bahan  ajar  yang  sesuai  dengan mempertimbangkan  pengetahuan  siswa  serta  guru  dapat  memberikan  bantuan  atau  intervensi berupa petunjuk (scaffolding) yang mengarahkan siswa untuk menemukan solusinya.
1)       Pembelajaran berbasis kendala merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world).
2)      Pembelajaran berbasis kendala merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan.
Model pembelajaran berbasis kendala dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah keterampilan peserta didik dalam pencapaian materi pembelajaran.

berikut ini lima strategi dalam menggunakan model pembelajaran berbasis kendala (PBL).
1)       Permasalahan sebagai kajian.
2)       Permasalahan sebagai penjajakan pemahaman.
3)       Permasalahan sebagai contoh.
4)       Permasalahan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses.
5)       Permasalahan sebagai stimulus aktivitas autentik.




Peran guru, peserta didik dan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah dapat digambarkan berikut ini :
Guru Sebagai Pelatih
Peserta Didik Sebagai Problem Solver
Masalah Sebagai Awal Tantangan dan Motivasi
o   Asking about thinking (bertanya tentang pemikiran).
o   Memonitor pembelajaran.
o   Probbing ( menantang peserta didik untuk berpikir ).
o   Menjaga agar peserta didik terlibat.
o   Mengatur dinamika kelompok.
o   Menjaga berlangsungnya proses

Peserta yang aktif.
o   Terlibat langsung dalam pembelajaran.
o   Membangun pembelajaran.

Menarik untuk dipecahkan.
o   Menyediakan kebutuhan yang ada hubungannya dengan pelajaran yang dipelajari.












B.    Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Kendala
Proses Pembelajaran Berbasis Masalah akan dapat dijalankan bila pengajar siap dengan segala perangkat yang diperlukan (masalah, formuli rpelengkap, dan lain-lain). Peserta didik pun juga harus memahamiprosesnya, dan telah membentuk kelompok-kelompok kecil. Umumnya,setiap kelompok menjalakan proses yang sering dikenal dengan proses 7 langkah yaitu:1)

Langkah 1 : mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum jelasMemastikan setiap anggota memahami berbagai istilah dan konsep yangada dalam masalah.
Langkah 2 : merumuskan masalah.
Langkah 3 : manganalisis masalah Anggota mengeluarkan pengetahuan terkait apa yang sudah dimilliki ianggota tentang masalah dan membahas informasi factual (yang tercantum pada masalah), dan juga informasi yang ada dalam pikiran anggota.
Langkah 4 : menata gagasan secara sistematis dan menganalisisnya secara dalam. Analisis adalah upaya memilah-memilah sesuatumenjadi bagian-bagian yang membentuknya
Langkah 5 : Memformulasikan tujuan pembelajaran Cooperative Learning Teori &Aplikasi Paikem Tujuan pembelajaran dikaitkan dengan analisis masalah yang dibuat danmenjadi dasar gagasan untuk membuat laporan.
Langkah 6 : mencari informasi tambahan dari sumber yang lain (diluar diskusi kelompok). Setiap anggota harus mampu belajar secaraefektif untuk mendapatkan informasi yang relevan. Keaktifan setiapanggota harus terbukti dengan laporan yang harus disampaikan olehsetiap individu/ subkelompok yang disampaikan dan dibahas dalampresentasi.7)

Langkah 7 : Mensintesa (menggabungkan) dan menguji informasibaru. Dari laporan-laporan individu/subkelompok, yangdipresentasikan di hadapan anggota kelompok lain, kelompok akanmendapatkan informasi-informasi baru. Anggota mendengar laporanharuslah kritis tentang laporan yang disajikan. Pada langkah 7 inikelompok sudah dapat membuat sintesis, menggabungkannya dan mengombinasikan hal-hal yang relevan. Di tahap ini, ketrampilanyang dibutuhkan adalah bagaimana meringkas, mendiskusikan, danmeninjau ulang hasil diskusi untuk disajikan dalam bentuk laporan.Disinilah kaemampuan menulis (komunikasi tertulis) dan kemudianmempresentasikan (komunikasi oral) sangat dibutuhkan dansekaligus dikembangkan.


C.     Contoh Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Kendala
Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian peserta didik diminta mencatat masalah-masalah yang muncul. Setelah itu tugas guru adalah meransang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka.
Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar diluar kelas. Peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran.

Fase 1: Mengorientasikan Peserta Didik pada Masalah
Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan. Dalam penggunaan PBL, tahapan ini sangat penting dimana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh peserta didik dan juga oleh guru. serta dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar peserta didik dapat mengerti dalam pembelajaran yang akan dilakukan. Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam proses ini, yaitu sebagai berikut.
1.       Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru, tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi peserta didik yang mandiri.
2.       Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak “benar“, sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan seringkali bertentangan.
3.       Selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini), peserta didik didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi. Guru akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu, namun peserta didik harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan temannya.
4.       Selama tahap analisis dan penjelasan, peserta didik akan didorong untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan. Tidak ada ide yang akan ditertawakan oleh guru atau teman sekelas. Semua peserta didik diberi peluang untuk menyumbang kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide mereka.

Fase 2: Mengorganisasikan Peserta Didik untuk Belajar
Di samping mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, pembelajaran PBL juga mendorong peserta didik belajar berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. Oleh sebab itu, guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok peserta didik dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Prinsip-prinsip pengelompokan peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen, pentingnya interaksi antar anggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan sebagainya. Guru sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran.
Setelah peserta didik diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan peserta didik menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik, tugas-tugas penyelidikan, dan jadwal. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua peserta didik aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.

Fase 3: Membantu Penyelidikan Mandiri dan Kelompok
Penyelidikan adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan, dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. Pada tahap ini, guru harus mendorong peserta didik untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar peserta didik mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri.
Guru membantu peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, dan ia seharusnya mengajukan pertanyaan pada peserta didik untuk berifikir tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan.
Setelah peserta didik mengumpulkan cukup data dan memberikan permasalahan tentang fenomena yang mereka selidiki, selanjutnya mereka mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis, penjelesan, dan pemecahan. Selama pengajaran pada fase ini, guru mendorong peserta didik untuk menyampikan semua ide-idenya dan menerima secara penuh ide tersebut. Guru juga harus mengajukan pertanyaan yang membuat peserta didik berpikir tentang kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta tentang kualitas informasi yang dikumpulkan.


Fase 4: Mengembangkan dan Menyajikan Artifak (Hasil Karya) dan Mempamerkannya
Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis, namun bisa suatu video tape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan), model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya), program komputer, dan sajian multimedia. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berpikir peserta didik. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan peserta didik-peserta didik lainnya, guru-guru, orang tua, dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik.

Fase 5: Analisis dan Evaluasi Proses Pemecahan Masalah
Fase ini merupakan tahap akhir dalam PBL. Fase ini dimaksudkan untuk membantu peserta didik menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. Selama fase ini guru meminta peserta didik untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya.

E.       Sistem Penilaian
Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan.
Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.
Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment.
1.       Self-assessment. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar.
2.       Peer-assessment. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya.
Penilaian yang relevan dalam PBL  antara lain berikut ini.
1.       Penilaian kinerja peserta didik.
Pada penilaian kinerja ini, peserta didik diminta untuk unjuk kerja atau mendemonstrasikan kemampuan melakukan tugas-tugas tertentu, seperti menulis karangan, melakukan suatu eksperimen, menginterpretasikan jawaban pada suatu masalah, memainkan suatu lagu, atau melukis suatu gambar.
2.       Penilaian portofolio peserta didik.
Penilaian portofolio adalah penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam suatu periode tertentu. Informasi perkembangan peserta didik dapat berupa hasil karya terbaik peserta didik selama proses belajar, pekerjaan hasil tes, piagam penghargaan, atau bentuk informasi lain yang terkait kompetensi tertentu dalam suatu mata pelajaran.
Dari informasi perkembangan itu peserta didik dan guru dapat menilai kemajuan belajar yang dicapai dan peserta didik terus berusaha memperbaiki diri. Penilain dengan portofolio dapat dipakai untuk penilaian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif. Penilaian kolaboratif dalam PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self assesment) dan peer assesment.
Self assessment adalah penilaian yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh peserta didik itu sendiri dalam belajar. Peer assessment adalah penilian dimana peserta didik berdiskusi untuk memberikan penilaian upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang diselesaikan sendiri maupun teman dalam kelompoknya.
3.       Penilaian Potensi Belajar
Penilaian yang diarahkan untuk mengukur potensi belajar peserta didik yaitu mengukur kemampuan yang dapat ditingkatkan dengan bantuan guru atau teman-temannya yang lebih maju. PBL yang memberi tugas-tugas pemecahan masalah memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan dan mengenali potensi kesiapan belajarnya.
4.       Penilaian Usaha Kelompok
Menilai usaha kelompok seperti yang dlakukan pada pembelajaran kooperatif dapat dilakukan pada PBL. Penilaian usaha kelompok mengurangi kompetisi merugikan yang sering terjadi, misalnya membandingkan peserta didik dengan temannya. Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh peserta didik sebagai hasil pekerjaan mereka dan mendiskusikan hasil pekerjaan secara bersama-sama.
Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan peserta didik tersebut, penilaian ini antara lain: 1).assesment kerja, 2). assesment autentik dan 3). portofolio. Penilaian proses bertujuan agar guru dapat melihat bagaimana peserta didik merencanakan pemecahan masalah, melihat bagaimana peserta didik menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya.
Penilaian kinerja memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan dalam situasi yang sebenarnya. Sebagian masalah dalam kehidupan nyata bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks atau lingkungannya, maka di samping pengembangan kurikulum juga perlu dikembangkan model pembelajaran yang sesuai tujuan kurikulum yang memungkinkan peserta didik dapat secara aktif mengembangkan kerangka berpikir dalam memecahkan masalah serta kemampuannya untuk bagaimana belajar (learning how to learn).
Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan peserta didik akan mudah beradaptasi. Dasar pemikiran pengembangan strategi pembelajaran tersebut sesuai dengan pandangan kontruktivis yang menekankan kebutuhan peserta didik untuk menyelidiki lingkungannya dan membangun pengetahuan secara pribadi pengetahuan bermakna.
Tahap evaluasi pada PBM terdiri atas tiga hal : 1. bagaimana peserta didik dan evaluator menilai produk (hasil akhir) proses 2. bagaimana mereka menerapkan tahapan PBM untuk bekerja melalui masalah 3. bagaimana peserta didik akan menyampaikan pengetahuan hasil pemecahan akan masalah atau sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam, misalnya secara lisan atau verbal, laporan tertulis, atau sebagai suatu bentuk penyajian formal lainnya. Sebagian dari evaluasi memfokuskan pada pemecahan masalah oleh peserta didik maupun dengan cara melakukan proses belajar kolaborasi (bekerja bersama pihak lain).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar