TUGAS
DASAR-DASAR KURIKULUM, TENTANG METODE PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
Disusun
oleh : Bella fista Juliana A310120094
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
FAKULTAS
PENDIDIKAN
BAHASA
INDONESIA DAN SASTRA
TAHUN
2012
METODE PEMBELAJARAN
BERFIKIR BERBASIS KENDALA
A.
DESKRIPSI
Menurut
Arends (Trianto, 2009) pembelajaran berbasis masalah (PBM) merupakan suatu
pendekatan
pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud
untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan
keterampilan berpikir, mengembangkan
kemandirian, dan percaya
diri. Hal senada
diungkapkan pula oleh
Suryadi (2005) yang menyatakan
bahwa PBM merupakan
suatu strategi yang
dimulai dengan menghadapkan siswa
pada masalah nyata
atau masalah yang
disimulasikan. Pada saat
siswa menghadapi masalah tersebut, mereka mulai menyadari bahwa hal demikian
dapat dipandang dari berbagai
perspektif serta
menyelesaikannya dibutuhkan pengintegrasian informasi
dari berbagai
ilmu.
Selanjutnya Barrow (Ismaimuza,
2010) mengungkapkan bahwa
masalah dalam PBM adalah masalah yang tidak terstruktur
(ill-structure), atau kontekstual dan menarik (contextual and engaging), sehingga meransang siswa
untuk bertanya dari
berbagai perspektif. Menurut Slavin (Ismaimuza, 2010) karakteristik lain
dari PBM meliputi pengajuan pertanyaan terhadap masalah, fokus pada
keterkaitan antar disiplin,
penyelidikan authentik, kerja
sama, dan menghasilkan produk atau karya yang harus
dipamerkan. Sejalan dengan pendapat
yang dikemukakan oleh
Slavin, menurut Pierce
dan Jones (Howey et al, 2001) dalam pelaksanaan PBM terdapat proses yang harus dimunculkan, seperti: keterlibatan (engagement),
inkuiri dan investigasi
(inquiry and investigation), kinerja (performance), Tanya
jawab dan diskusi
(debriefing). Keterlibatan bertujuan
untuk mempersiapkan siswa untuk
berperan sebagai pemecah masalah (self-directed problem
solver) yang bisa bekerja
sama dengan pihak
lain, menghadapkan siswa
pada situasi yang
mampu mendorong untuk mampu
menemukan masalah, meneliti
dan menyelesaikannya. Inkuiri
dan
investigasi
yang meliputi kegiatan mengeksplorasi berbagai cara menjelaskan dan implikasinya, kegiatan mengumpulkan
dan mendistribusikan informasi.
Kinerja bertujuan menyajikan temuan yang
diperoleh. Tanya jawab
dan diskusi, yaitu
menguji keakuratan dari solusi
dan melakukan refleksi terhadap pemecahan masalah yang dilakukan. Dengan
demikian PBM menghendaki agar siswa aktif untuk memecahkan masalah yang
sedang dihadapinya. Agar
siswa aktif maka diperlukan
desain bahan ajar
yang sesuai dengan mempertimbangkan pengetahuan
siswa serta guru
dapat memberikan bantuan
atau intervensi berupa petunjuk
(scaffolding) yang mengarahkan siswa untuk menemukan solusinya.
1)
Pembelajaran
berbasis kendala merupakan
sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga
merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan
pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan
masalah dunia nyata (real world).
2)
Pembelajaran berbasis kendala
merupakan suatu
metode pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja
secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah
yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu
pada pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik,
sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan
masalah yang harus dipecahkan.
Model
pembelajaran berbasis kendala
dilakukan
dengan adanya pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan
pemecahan masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah
keterampilan peserta didik dalam pencapaian materi pembelajaran.
berikut ini lima
strategi dalam menggunakan model pembelajaran berbasis kendala (PBL).
1) Permasalahan sebagai
kajian.
2) Permasalahan
sebagai penjajakan pemahaman.
3) Permasalahan
sebagai contoh.
4) Permasalahan
sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses.
5) Permasalahan
sebagai stimulus aktivitas autentik.
Peran guru, peserta
didik dan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah dapat digambarkan berikut
ini :
Guru Sebagai Pelatih
|
Peserta Didik Sebagai Problem Solver
|
Masalah Sebagai Awal Tantangan dan Motivasi
|
o Asking about thinking (bertanya tentang pemikiran).
o Memonitor pembelajaran.
o Probbing ( menantang peserta didik untuk berpikir ).
o Menjaga agar peserta didik terlibat.
o Mengatur dinamika kelompok.
o Menjaga berlangsungnya proses
|
Peserta yang aktif.
o Terlibat langsung dalam pembelajaran.
o Membangun pembelajaran.
|
Menarik
untuk dipecahkan.
o Menyediakan kebutuhan yang ada hubungannya dengan pelajaran yang
dipelajari.
|
B. Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Kendala
Proses Pembelajaran Berbasis Masalah akan dapat
dijalankan bila pengajar siap dengan segala perangkat yang diperlukan (masalah,
formuli rpelengkap, dan lain-lain). Peserta
didik pun juga harus memahamiprosesnya, dan telah membentuk kelompok-kelompok
kecil. Umumnya,setiap kelompok menjalakan
proses yang sering dikenal dengan proses 7 langkah yaitu:1)
Langkah 1 : mengklarifikasi istilah dan konsep yang
belum jelasMemastikan setiap anggota memahami berbagai istilah dan konsep
yangada dalam masalah.
Langkah 2 : merumuskan masalah.
Langkah 3 : manganalisis masalah Anggota
mengeluarkan pengetahuan terkait apa yang sudah dimilliki ianggota tentang
masalah dan membahas informasi factual (yang tercantum
pada masalah), dan juga informasi yang ada dalam pikiran anggota.
Langkah 4 : menata gagasan secara sistematis dan
menganalisisnya secara dalam. Analisis
adalah upaya memilah-memilah sesuatumenjadi
bagian-bagian yang membentuknya
Langkah 5 : Memformulasikan tujuan pembelajaran
Cooperative Learning Teori &Aplikasi Paikem
Tujuan pembelajaran dikaitkan
dengan analisis masalah yang dibuat danmenjadi dasar gagasan untuk membuat
laporan.
Langkah 6 : mencari informasi tambahan dari sumber
yang lain (diluar diskusi kelompok). Setiap anggota harus mampu belajar
secaraefektif untuk mendapatkan informasi yang relevan. Keaktifan setiapanggota harus terbukti dengan laporan yang harus
disampaikan olehsetiap individu/ subkelompok yang disampaikan dan dibahas
dalampresentasi.7)
Langkah
7 : Mensintesa (menggabungkan) dan menguji informasibaru. Dari laporan-laporan
individu/subkelompok, yangdipresentasikan
di hadapan anggota kelompok lain, kelompok akanmendapatkan
informasi-informasi baru. Anggota mendengar laporanharuslah
kritis tentang laporan yang disajikan. Pada langkah 7 inikelompok sudah dapat membuat sintesis,
menggabungkannya dan mengombinasikan hal-hal yang relevan. Di tahap ini,
ketrampilanyang dibutuhkan adalah bagaimana
meringkas, mendiskusikan, danmeninjau ulang hasil diskusi untuk
disajikan dalam bentuk laporan.Disinilah kaemampuan menulis (komunikasi
tertulis) dan kemudianmempresentasikan (komunikasi oral) sangat dibutuhkan dansekaligus dikembangkan.
C. Contoh Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Kendala
Sebelum memulai
proses belajar-mengajar di dalam kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta
untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian peserta didik
diminta mencatat masalah-masalah yang muncul. Setelah itu tugas guru adalah
meransang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang
ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan
asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka.
Memanfaatkan
lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar. Guru memberikan
penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik,
antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh
guru memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar diluar kelas.
Peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang
sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus
dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi,
kemampuan dasar dan materi pembelajaran.
Fase 1: Mengorientasikan Peserta Didik pada Masalah
Pembelajaran
dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang
akan dilakukan. Dalam penggunaan PBL, tahapan ini sangat penting dimana guru
harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh peserta didik dan
juga oleh guru. serta dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses
pembelajaran. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar peserta
didik dapat mengerti dalam pembelajaran yang akan dilakukan. Ada empat hal yang
perlu dilakukan dalam proses ini, yaitu sebagai berikut.
1.
Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru,
tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan
bagaimana menjadi peserta didik yang mandiri.
2.
Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak
“benar“, sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian
dan seringkali bertentangan.
3.
Selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini), peserta didik didorong untuk
mengajukan pertanyaan dan mencari informasi. Guru akan bertindak sebagai
pembimbing yang siap membantu, namun peserta didik harus berusaha untuk bekerja
mandiri atau dengan temannya.
4.
Selama tahap analisis dan penjelasan, peserta didik akan didorong untuk
menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan. Tidak ada ide yang
akan ditertawakan oleh guru atau teman sekelas. Semua peserta didik diberi
peluang untuk menyumbang kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide mereka.
Fase 2:
Mengorganisasikan Peserta Didik untuk Belajar
Di samping
mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, pembelajaran PBL juga mendorong
peserta didik belajar berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan
kerjasama dan sharing antar anggota. Oleh sebab itu, guru dapat memulai
kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok peserta didik dimana
masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda.
Prinsip-prinsip pengelompokan peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dapat
digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen, pentingnya
interaksi antar anggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan
sebagainya. Guru sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja masing-masing kelompok
untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran.
Setelah peserta
didik diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar
selanjutnya guru dan peserta didik menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik,
tugas-tugas penyelidikan, dan jadwal. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini
adalah mengupayakan agar semua peserta didik aktif terlibat dalam sejumlah
kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan
penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.
Fase 3:
Membantu Penyelidikan Mandiri dan Kelompok
Penyelidikan
adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik
penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang
identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan,
dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek
yang sangat penting. Pada tahap ini, guru harus mendorong peserta didik untuk
mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai
mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar
peserta didik mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide
mereka sendiri.
Guru membantu
peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai
sumber, dan ia seharusnya mengajukan pertanyaan pada peserta didik untuk
berifikir tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada
pemecahan masalah yang dapat dipertahankan.
Setelah peserta
didik mengumpulkan cukup data dan memberikan permasalahan tentang fenomena yang
mereka selidiki, selanjutnya mereka mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk
hipotesis, penjelesan, dan pemecahan. Selama pengajaran pada fase ini, guru
mendorong peserta didik untuk menyampikan semua ide-idenya dan menerima secara
penuh ide tersebut. Guru juga harus mengajukan pertanyaan yang membuat peserta
didik berpikir tentang kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta
tentang kualitas informasi yang dikumpulkan.
Fase 4: Mengembangkan
dan Menyajikan Artifak (Hasil Karya) dan Mempamerkannya
Tahap
penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran.
Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis, namun bisa suatu video tape
(menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan), model (perwujudan
secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya), program komputer, dan
sajian multimedia. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat
berpikir peserta didik. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya
dan guru berperan sebagai organisator pameran. Akan lebih baik jika dalam
pemeran ini melibatkan peserta didik-peserta didik lainnya, guru-guru, orang
tua, dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik.
Fase 5: Analisis
dan Evaluasi Proses Pemecahan Masalah
Fase ini
merupakan tahap akhir dalam PBL. Fase ini dimaksudkan untuk membantu peserta
didik menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan keterampilan
penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. Selama fase ini guru meminta
peserta didik untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan
selama proses kegiatan belajarnya.
E.
Sistem Penilaian
Penilaian
dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan
(skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan
pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan
ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan
laporan.
Penilaian
terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software,
hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan
penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill,
yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim,
dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut
ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.
Penilaian pembelajaran
dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment. Penilaian dapat
dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan
peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu
tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. Penilaian dalam
pendekatan PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment)
dan peer-assessment.
1.
Self-assessment. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri
terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang
ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar.
2.
Peer-assessment. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan
penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah
dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya.
Penilaian yang
relevan dalam PBL antara lain berikut ini.
1.
Penilaian kinerja peserta didik.
Pada penilaian
kinerja ini, peserta didik diminta untuk unjuk kerja atau mendemonstrasikan
kemampuan melakukan tugas-tugas tertentu, seperti menulis karangan, melakukan
suatu eksperimen, menginterpretasikan jawaban pada suatu masalah, memainkan
suatu lagu, atau melukis suatu gambar.
2.
Penilaian portofolio peserta didik.
Penilaian
portofolio adalah penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan
informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam suatu
periode tertentu. Informasi perkembangan peserta didik dapat berupa hasil karya
terbaik peserta didik selama proses belajar, pekerjaan hasil tes, piagam
penghargaan, atau bentuk informasi lain yang terkait kompetensi tertentu dalam
suatu mata pelajaran.
Dari informasi
perkembangan itu peserta didik dan guru dapat menilai kemajuan belajar yang
dicapai dan peserta didik terus berusaha memperbaiki diri. Penilain dengan
portofolio dapat dipakai untuk penilaian pembelajaran yang dilakukan secara
kolaboratif. Penilaian kolaboratif dalam PBL dilakukan dengan cara evaluasi
diri (self assesment) dan peer assesment.
Self assessment adalah
penilaian yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri terhadap usaha-usahanya
dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh
peserta didik itu sendiri dalam belajar. Peer assessment adalah penilian
dimana peserta didik berdiskusi untuk memberikan penilaian upaya dan hasil
penyelesaian tugas-tugas yang diselesaikan sendiri maupun teman dalam
kelompoknya.
3.
Penilaian Potensi Belajar
Penilaian yang
diarahkan untuk mengukur potensi belajar peserta didik yaitu mengukur kemampuan
yang dapat ditingkatkan dengan bantuan guru atau teman-temannya yang lebih
maju. PBL yang memberi tugas-tugas pemecahan masalah memungkinkan peserta didik
untuk mengembangkan dan mengenali potensi kesiapan belajarnya.
4.
Penilaian Usaha Kelompok
Menilai usaha
kelompok seperti yang dlakukan pada pembelajaran kooperatif dapat dilakukan
pada PBL. Penilaian usaha kelompok mengurangi kompetisi merugikan yang sering
terjadi, misalnya membandingkan peserta didik dengan temannya. Penilaian dan
evaluasi yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah menilai
pekerjaan yang dihasilkan oleh peserta didik sebagai hasil pekerjaan mereka dan
mendiskusikan hasil pekerjaan secara bersama-sama.
Penilaian
proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan peserta didik tersebut,
penilaian ini antara lain: 1).assesment kerja, 2). assesment autentik dan 3).
portofolio. Penilaian proses bertujuan agar guru dapat melihat bagaimana
peserta didik merencanakan pemecahan masalah, melihat bagaimana peserta didik
menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya.
Penilaian
kinerja memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan
dalam situasi yang sebenarnya. Sebagian masalah dalam kehidupan nyata bersifat
dinamis sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks atau lingkungannya, maka
di samping pengembangan kurikulum juga perlu dikembangkan model pembelajaran
yang sesuai tujuan kurikulum yang memungkinkan peserta didik dapat secara aktif
mengembangkan kerangka berpikir dalam memecahkan masalah serta kemampuannya
untuk bagaimana belajar (learning how to learn).
Dengan
kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan peserta didik akan mudah
beradaptasi. Dasar pemikiran pengembangan strategi pembelajaran tersebut sesuai
dengan pandangan kontruktivis yang menekankan kebutuhan peserta didik untuk
menyelidiki lingkungannya dan membangun pengetahuan secara pribadi pengetahuan
bermakna.
Tahap evaluasi
pada PBM terdiri atas tiga hal : 1. bagaimana peserta didik dan evaluator
menilai produk (hasil akhir) proses 2. bagaimana mereka menerapkan tahapan PBM
untuk bekerja melalui masalah 3. bagaimana peserta didik akan menyampaikan
pengetahuan hasil pemecahan akan masalah atau sebagai bentuk pertanggungjawaban
mereka belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian atau respon-respon mereka
dalam berbagai bentuk yang beragam, misalnya secara lisan atau verbal, laporan
tertulis, atau sebagai suatu bentuk penyajian formal lainnya. Sebagian dari
evaluasi memfokuskan pada pemecahan masalah oleh peserta didik maupun dengan
cara melakukan proses belajar kolaborasi (bekerja bersama pihak lain).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar